Dikutip dari buku Gue Bukan Superman, Miriam Adderholdt, Ph.D. dan Jan Goldberg.

Ketika seniman ulung Daedalus dan putranya, Icarus, ditahan di labirin oleh Raja Minos dari Kreta, Daedalus berusaha keras untuk bisa kabur. Bertahun-tahun dia kumpulkan bulu-bulu burung yang jatuh ketika melintas di atas labirin. Lalu, dia bikin rangka dari kayu dan menempelkan bulu-bulu tersebut ke rangka dengan lilin dan benang ikat. Dia juga bikin sepasang sayap buat dirinya sendiri dan sepasang lagi buat putranya. Ketika membantu Icarus mengikat sayapnya, dia memperingatkan Icarus agar menjaga jarak dengan laut – tidak terbang terlalu dekat dengan matahari yang panas atau terlalu dekat dengan laut yang lembap.

Ketika mereka berdua terbang melintasi udara di atas lautan menuju kebebasan, Icarus seperti tidak pernah merasakan kegembiraan semacam itu. Sayapnya membawanya melintasi ombak tanpa kesulitan. Merasa kuat, dia terbang lebih tinggi dan semakin tinggi ke tempat yang bisa melihat seluruh dunia dengan lebih jelas. Ah, kenapa tidak terbang lebih tinggi lagi? Dua meter, tujuh meter, dua puluh meter…

Daedalus berteriak padanya, tapi Icarus mengabaikannya. Lalu, terjadilah tragedi : lilin di sayap meleleh, sayap Icarus rontok, dan dia jatuh ke laut seperti batu.