Italia pun Di Ambang Berjaya

By : Andi Abdullah Sururi, detikSport

Motegi Casey Stoner sudah membuat bangga Australia. Selanjutnya ia punya misi untuk memberi kejayaan pula pada Italia untuk membawa timnya menjuarai kompetisi konstruktor.

Stoner berhak menyandang predikat juara dunia Moto GP setelah seri ke-14 di Jepang, Minggu (23/9/2007). Walaupun hanya finish di tempat keenam, tapi perolehan angkanya takkan terkejar pesaing terdekatnya, Valentino Rossi.

Stoner pun menjadi pembalap Australia pertama sejak Doohan yang menjuarai balap motor kelas primer. Doohan adalah legenda Negeri Kanguru yang lima kali berturut-turut menjuarai kelas 500cc dari 1994-1998.

“Ini pastinya hari yang luar biasa untuk Australia,” ujar rekan setim Stoner yang naik podium teratas di Motegi, Loris Capirossi. “Sekarang dia adalah juara dunia dan saya ikut senang. Dia sungguh pembalap yang hebat.”

Tugas Stoner (dan Capirossi) di tiga seri terakhir adalah memuluskan jalan Ducati untuk mengunci pula titel konstruktor. Saat ini pabrikan asal Italia itu memimpin klasemen sementara, unggul 69 poin atas Honda.

Jika Ducati juara di akhir musim, ini berarti untuk kali pertama pabrikan tersebut merengkuh titel juara dunia di kancah Grand Prix motor, setelah kembali bergabung di tahun 2003.

Selama ini bendera Ducati lebih berkibar di ajang World Superbike karena memang lebih berkonsentrasi ke ajang tersebut. Mereka telah melahirkan banyak pembalap hebat di kompetisi tersebut Doug Polen, Carl Fogarty, Troy Corser, Troy Bayliss, Neil Hodgson, sampai James Toseland.

Dari awal 1990-an Ducati memfasilitasi titel juara dunia untuk pembalapnya sebanyak 12 kali. Di kategori konstruktor mereka bahkan menyabet gelar juara sebanyak 13 kali.

Namun sejak terjun ke Moto GP, Ducati dan proyek Desmosedici-nya belum pernah merasakan kemenangan di setiap akhir musim. Di tahun 2003, saat diperkuat Capirossi dan Bayliis, mereka hanya menjadi runner up di belakang Honda.

Sejak 2004 Ducati merilis tim satelitnya, d’Antin. Hodgson dan Ruben Xaus memperkuat tim tersebut. Hasilnya malah turun. Dengan Capirossi, Bayliis, Hodgson, dan Xaus, Ducati hanya menempati urutan ketiga setelah Honda dan Yamaha.

Musim lalu Capirossi masih dipasang, kali itu ditandemkan dengan Sete Gibernau. Hasilnya juga tidak bagus. Baru tahun ini, setelah merekrut Stoner, Desmosedici bermesin 800cc mulai mendominasi dan di ambang juara pula.