Sebuah novel fantasi karangan saya.

Silakan menikmati dan jangan lupa memberi komentar / masukan🙂

Harap tidak menyebarluaskan tanpa seizin pengarang!


Bab 1


Pendar cahaya terpancar dari celah yang membuka.

Fieny mundur beberapa langkah ketika lingkaran besar itu mulai terbelah dua secara vertikal. Beberapa detik sebelumnya ia baru saja menarik tangan kanannya dari benda bulat yang terbagi atas delapan bagian itu. Simbol berwujud tetesan air berwarna biru yang terukir pada salah satu bagian lingkaran, berkilauan di atas dasar lempengan logam mulia, bereaksi setelah bersentuhan dengan tanda lahir berbentuk angka delapan yang melintang sejajar di bawah ruas-ruas jemari tangannya.

Fieny tak mampu menahan rasa takjub ketika Gerbang Orphal di hadapannya perlahan-lahan membuka, membuat kedua sisi lingkaran emas yang merupakan bagian dari gerbang raksasa itu semakin berjauhan. Gadis itu memicingkan mata untuk mengantisipasi terjangan cahaya dalam intensitas sangat besar yang menyertai terbukanya portal pemisah dua dunia.

Kuda coklatnya yang terikat di sebatang pohon meringkik kaget namun bunyinya segera tertelan oleh derakan yang memekakkan telinga ketika pintu gerbang bergesekan dengan permukaan tanah. Dinding batu yang mengapit kedua sisi gerbang itu kokoh menghunjam ke pusat dunia dan menjulang tinggi hingga menembus awan, tak tertembus segala senjata dan hanya menyisakan satu cara untuk melintas.

Dengan sabar Fieny menanti hingga gerbang terbuka sempurna. Cahaya putih menyilaukan memaksa matanya semakin terpicing sampai batas minimal ia mampu melihat. Saat bunyi derak berhenti, tanpa membuang waktu ia segera berlari menerobos celah yang terbuka lebar.

Delapan langkah yang diperlukan untuk melintasi area bercahaya itu sesuai dengan ketebalan Gerbang Orphal. Ketika akhirnya Fieny menginjakkan kaki ke dunia asing, kabut yang sangat tebal menyambutnya namun matanya tetap dapat melihat dengan jelas pemandangan di sekelilingnya. Tanah berkerikil tanpa sebatangpun pohon membentang luas di sepanjang dinding penyangga gerbang. Di kejauhan tampak deretan gedung-gedung tinggi dengan badan berkilauan memantulkan warna oranye langit.

Tempat tinggal para Mannusha, Fieny tersenyum sinis. Makhluk lemah tanpa kekuatan yang tak bisa berbuat apa-apa.

Ketika mendongakkan kepala, dilihatnya sesosok gadis tengah melayang setinggi lima meter. Sayap-sayap transparan di punggung gadis itu mengepak perlahan, menjaga keseimbangannya di udara. Gaun putihnya yang terbuat dari sutra berhiaskan untaian manik-manik di bagian pinggang berkibar dihembus angin.

“Turunlah, Airy! Sampai kapan kau akan melayang seperti itu?” perintah Fieny kesal.

“Kau terlambat,” ujar Airy mengejek. Kedua tangannya bersedekap. “Tak kusangka kemampuan berkuda Tuan Putri Fieny ternyata tak sanggup mengimbangi kecepatan terbangku!”

Ejekan itu membangkitkan amarah Fieny. Sejak tadi ia memang memacu kuda dengan kencang, berusaha mengejar saingannya yang melesat terbang dengan bantuan kekuatan angin. Meskipun tertinggal cukup jauh, Fieny tak sudi mengakui kekalahan. Harga diri sebagai putri tunggal dari para Penguasa Air yang bertakhta di balik air terjun Phyrugia tak mengizinkannya menerima penghinaan dari siapapun, bahkan dari seorang Putri Angin sekalipun.

“Kalau berani, turunlah! Kita bertarung satu lawan satu, air melawan angin, untuk menentukan siapa yang terhebat!”

“Tidak,” jawab Airy dengan kepala dingin, sama sekali tak terpengaruh hasutan. “Melakukan pertarungan di Dunia Mannusha merupakan ide yang konyol. Pangeran pasti takkan setuju.”

“Pangeran takkan mendengar apapun tentang pertarungan ini!” ucap Fieny meyakinkan. “Kita sudah melintasi Gerbang Orphal dan itu berarti sekarang kita berada di luar wilayah Elementiera. Mustahil Pangeran bisa mengetahui keberadaan kita, kecuali jika ia menugaskan seseorang yang cekatan untuk mengawasi setiap gerak-gerik kita!”

Airy menggeleng. “Tak ada gunanya kita bertarung. Tidak baik menyelesaikan masalah dengan jalan kekerasan. Lebih baik kita segera kembali.”

Sayap-sayap Airy mengepak lebih cepat, mendorong tubuhnya meluncur mendekati Gerbang Orphal.

Fieny semakin gusar menerima penolakan itu. Demi mencegah saingannya kabur, ia memusatkan pikiran, memanggil kekuatannya. Titik-titik air mulai bermunculan di permukaan tanah, menggenangi tali-tali yang membelit alas kakinya. Himpunan air itu terus bertambah lalu bergerak vertikal membentuk dinding air setinggi dua meter yang bergelombang dan beriak menyerupai ombak ganas di lautan.

Merasa jumlah air itu sudah cukup banyak, Fieny lantas mengangkat sebelah tangan menunjuk tubuh Airy. Bersamaan dengan gerakannya, sebagian dinding air memisahkan diri lalu mengubah wujudnya menyerupai bor berujung runcing. Pusaran air itu melesat kencang membelah udara, hanya menyisakan jarak yang sangat tipis dari wajah Airy.

Airy tersentak, spontan menghentikan kepakan sayapnya. Untuk sesaat ia terpaku, mendiamkan segala gerakan sementara titik-titik air memerciki wajah dan gaunnya. Tanpa mengindahkan reaksinya, pusaran air terus membumbung tinggi sampai akhirnya lenyap tertelan kabut yang kembali merapat untuk mengisi celah yang terkoyak.

Butuh beberapa saat bagi Airy untuk memulihkan keterkejutannya sebelum berpaling ke bawah dan menyadari bahwa serangan dahsyat itu dilontarkan oleh Fieny hanya dalam waktu yang relatif singkat.

“Kau bukan Mannusha,” sahut Fieny mencemooh. “Jadi, jangan bersikap sok bijaksana di depanku!”

“Beraninya kau menyerangku tiba-tiba! Sungguh keterlaluan!”

“Bukankah aku sudah mengumandangkan tantangan? Salahmu sendiri kalau kau memilih tak menggubrisnya!” Bibir Fieny melengkung tidak simetris membentuk seringai licik. Ia tak peduli meski tindakannya telah menyulut amarah saingannya. “Kau beruntung tadi aku sengaja membuat seranganku meleset. Anggaplah itu sebagai salam pembuka. Tapi lain kali, jangan harap aku akan bermurah hati lagi!”

“Baik. Kalau itu maumu, akan kutanggapi!”

Tanpa pikir panjang Airy mengepakkan sayap-sayapnya dengan kecepatan penuh. Sapuan sayapnya memaksa udara di sekitarnya berpilin kencang hingga tercipta pusaran angin berulir spiral. Tekanan udara anjlok, kerikil-kerikil beterbangan searah dengan putaran topan. Topan itu semakin besar seiring dengan semakin luasnya area udara yang terpengaruh. Saking besarnya, seolah topan itu mampu meluluhlantakkan sebuah kota!

Fieny masih tetap tak bereaksi walaupun lawan tengah menghimpun Badai Topan yang merupakan serangan andalan Klan Angin. Ia tak perlu panik karena telah menciptakan dinding air yang kokoh tak tergoyahkan, lebih dari cukup untuk melindungi diri sekaligus melakukan penyerangan. Kapanpun, ia siap melontarkan serangan untuk mengoyak tubuh gadis itu.

“Terimalah!”

Setelah persiapan Badai Topan sempurna, Airy tak menyia-nyiakan kesempatan untuk melancarkan serangan balasan. Bersamaan dengan terayunnya sebelah tangannya, topan berukuran raksasa melesat kencang menembus selubung kabut.

Aku tak boleh tinggal diam! pikir Fieny ketika melihat serangan besar itu mengarah kepadanya. Ia mengangkat tangan kanan menunjuk posisi lawan. Separuh dari dinding air memisahkan diri, berpusar cepat membentuk bor berujung runcing, lalu menerjang angin topan yang hendak mencelakakan majikannya.

Dua kekuatan besar yang dikendalikan oleh putri-putri para penguasa dari klan-klan utama itu saling beradu. Tumbukannya menciptakan gemuruh yang sangat keras namun kabut tebal berhasil meredam bunyi itu agar tak menyelinap ke wilayah luar. Badai Topan terus mendesak, berusaha mengoyak Pusaran Air yang juga melakukan hal yang sama.

Berkebalikan dengan tekad kuat para majikannya yang tak lekang dimakan masa, serangan-serangan itu hanya tahan berinteraksi tidak lebih dari lima menit. Kemudian terjadilah ledakan yang disertai pancaran cahaya menyilaukan dan bising yang memekakkan telinga. Badai Topan dan Pusaran Air hancur seketika, terurai menjadi partikel-partikel udara dan percikan-percikan air berukuran mikro.

Sedahsyat apapun ledakan itu memang tak berpengaruh pada Gerbang Orphal yang sangat kokoh namun energi yang terlepas menghempaskan tubuh kedua putri ke arah berlawanan. Airy memanfaatkan angin untuk menetralkan dorongan kuat itu serta menahan tubuhnya dari tergelincir lebih jauh. Sedangkan Fieny mengerahkan dinding air untuk mencegahnya jatuh terjerembab ke permukaan tanah yang kotor. Himpunan air itu lantas runtuh menjadi tetesan-tetesan yang menggenangi tanah, sesuai dengan prinsipnya yang hanya bisa sekali digunakan.

“Kau tak apa-apa, Fieny?”

Fieny menggeram menerima kecemasan dari musuhnya. “Memangnya kemampuanku sedemikian rendah hingga layak menerima belas kasihan dari musuhku?”

“Tampaknya kebencianmu padaku masih belum sirna,” ujar Airy kecewa karena menerima tanggapan dingin. “Tapi sudahlah, aku tak ingin melanjutkan pertarungan konyol ini. Sebagai sesama kaum bangsawan, alangkah bodohnya jika kita saling membunuh hanya demi menuntaskan masalah yang sebenarnya dapat diselesaikan dengan cara lain.”

“Tak ada cara yang lebih baik daripada ini! Bagaimanapun aku harus mengalahkanmu untuk membuktikan kemampuanku!”

“Picik sekali!” Airy tak bisa menahan diri untuk tak melontarkan ejekan. “Kau pikir dengan mengalahkanku, maka Pangeran akan memilihmu menjadi pasangan hidupnya?”

“Tentu saja!” bantah Fieny tak mau kalah. “Yang layak mendampingi Pangeran hanyalah gadis yang terkuat!”

Airy menggelengkan kepala menyatakan ketidaksetujuan tetapi Fieny tak mau ambil pusing mempertimbangkannya. Benak Fieny telah dipenuhi ambisi untuk menjatuhkan saingannya demi menjadi kandidat tunggal pasangan Pangeran.

Sudah tiga minggu berlalu semenjak kedatangannya ke Istana Api namun Pangeran belum juga menunjukkan tanda-tanda akan memilihnya. Fieny sudah bosan menunggu dan berniat mengakhirinya hari ini dengan mengalahkan Airy. Keputusan ini diambilnya bukan hanya karena ia begitu mencintai Sang Pangeran yang memang sangat tampan namun lebih karena ambisinya untuk menggapai kesempatan emas menjadi pendamping calon penguasa Elementiera.

“Baik. Kalau kau bersikeras ingin mengalahkanku, akan kuberi kesempatan,” kata Airy setelah menimbang sifat keras kepala Fieny yang tak mau menerima penjelasan apapun. “Kalau kau mampu memaksaku menjejakkan kaki ke tanah, aku akan mengakuimu sebagai yang terhebat.”

“Dan pantas mendampingi Pangeran?”

“Tentu saja, sesuai dengan ucapanmu sebelumnya.”

“Baik, kupegang kata-katamu! Kuharap kau takkan mengingkarinya.”

“Kalau begitu, tunggu apa lagi?” Sayap-sayap Airy mengepak lebih cepat. “Kita mulai pertempuran ini sekarang juga!”

Hanya dalam satu kedipan mata sosok Airy telah melesat jauh, keluar dari jeratan kabut. Fieny tidak serta merta berlari menyusul. Ia masih termenung memikirkan cara untuk menjatuhkan saingannya. Walaupun segan, ia harus mengakui bahwa kemampuan Airy berada jauh di atas level rata-rata sehingga usaha mengalahkannya bukanlah hal yang sederhana. Mau tak mau ia harus memutar otak dan mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

Fieny mengangguk membulatkan tekad. Hanya ada satu cara untuk mengalahkannya.

Ia memejamkan mata, berkonsentrasi memusatkan kekuatan. Dari celah-celah tanah di bawah kakinya titik-titik air mulai merembes menggenangi permukaan tanah. Semakin lama semakin melimpah air yang terkumpul. Merasakan banyaknya air yang meluber, perlahan Fieny membuka mata lalu mendongakkan kepala. Bersamaan dengan terangkatnya kedua tangannya ke udara, genangan air melesat kencang ke atas. Aliran air itu mengoyak kabut, menembus awan, menyebarkan genangan yang menutupi wajah langit.

Fieny menghela napas. Ritual pemanggilan hujan memang memerlukan tambahan waktu. Sementara ritual terus berlangsung, ia tak boleh berdiam diri. Dengan gesit Fieny berlari menembus kabut hingga menyentuh batas terluar selubung kabut. Semburat jingga di ufuk barat menyambutnya. Ia tahu tubuhnya kini tak kasat mata sesuai dengan legenda Gerbang Orphal yang terkandung dalam Kitab Leviashatra. Kabut magis yang menyelubungi gerbang itu tidak hanya berfungsi mengaburkan pandangan para manusia, tetapi juga membuat tubuh para Elementer yang melintasinya menjadi tak terlihat.

Beberapa ratus meter di depannya terhampar gedung-gedung yang menjulang tinggi seolah berebutan menjangkau langit. Seluruh dinding bangunannya yang terbuat dari kaca merefleksikan pemandangan senja yang mulai tergantikan oleh suramnya kelabu. Terdengar suara serak burung-burung yang terbang berarakan dalam formasi berbentuk huruf V.

Usai memasuki wilayah kota, Fieny melihat kendaraan-kendaraan bermotor lalu-lalang di sepanjang jalan. Para manusia yang memadati trotoar membuatnya kesulitan mencari ruang untuk berlari. Walaupun seluruh tubuhnya tak kasat mata, ia tak boleh sampai ceroboh menabrak mereka karena bagaimanapun wujudnya masih tetap nyata.

Rintangan itu tak membuatnya lantas menyerah. Helai-helai rok yang berlapis-lapis berkibar mengiringi setiap langkahnya menerobos celah di antara para pejalan kaki. Cukup lama ia berlari sampai akhirnya menemukan sosok Airy tengah melayang dengan malas pada ketinggian sekitar dua puluh meter. Mungkin gadis itu mengiranya telah kehilangan jejak sehingga memutuskan mengurangi kecepatan dan berseliweran di pusat kota.

Fieny tersenyum. Inilah kesempatannya memulai serangan awal untuk menghentikan Airy kabur lebih jauh.

Dilihatnya sebuah gang sempit yang gelap karena terlindung oleh bayangan dua gedung yang mengapit kedua sisinya. Fieny bergegas menyembunyikan diri di sana. Walaupun ini merupakan keputusannya untuk melakukan pertempuran di Dunia Mannusha dan efek kabut magis menyembunyikan penampilannya, alangkah tidak bijaksana jika ia membiarkan para manusia menjadi saksi kekuatannya yang bagi mereka berada di luar logika. Beruntung ia menemukan tempat sepi yang lolos dari pengamatan manusia, sekaligus berada pada jalur tembakan lurus ke tubuh saingannya.

Fieny menghadapkan kedua tangan. Di ruang antara dua telapak tangannya titik-titik air bermunculan lalu berpilin cepat secara melingkar hingga membentuk bola padat berwarna kebiruan. Jarak kedua tangannya semakin melebar sejalan dengan perkembangan ukuran bola air. Ketika diameter serangannya mencapai setengah meter, Fieny menengadahkan kepala sambil memicingkan mata, berusaha mengarahkan bidikan pada gadis bersayap transparan yang melayang tak tentu arah.

Sedetik kemudian serangannya dilepaskan. Bola air meluncur kencang membelah udara diiringi suara berdesing. Kekuatan serangan itu diyakininya mampu melumpuhkan fisik korban namun sayang suara nyaring yang menyertai tembakan itu rupanya telah mengundang perhatian Airy. Dalam satu kepakan sayap ia telah berpindah tempat sejauh dua meter.

Akibatnya, serangan dahsyat itu menghantam gedung kaca di belakang Airy yang masih berada pada jalur lurus lintasannya. Ledakan besar terjadi dengan bunyi yang sangat keras. Tenaga ledakan itu menghempaskan tubuh Airy menjauh hingga nyaris menabrak bangunan bertingkat di seberang gedung yang menjadi korban. Dengan sigap gadis itu memanfaatkan angin untuk menghentikan laju pergerakannya secara paksa sebelum tulang belakangnya remuk.

Belum sempat Airy menghela napas, kepingan-kepingan kaca berhamburan ke segala arah, termasuk ke arahnya. Beberapa kali ia mengepakkan sayap untuk menyingkir dari terjangan pecahan kaca yang tajam sementara tangannya sibuk menepis serpihan-serpihan halus yang hampir menggores wajahnya.

Ledakan itu menimbulkan kehebohan di seluruh kota. Para manusia yang berdiam di dalam gedung-gedung berebutan menuju pintu keluar. Mereka membaur di jalan raya, membuat lalu lintas macet. Sebagian terpukau mengamati lubang besar yang menganga di badan sebuah gedung kaca, sisanya berlarian menjauhi tempat kejadian sambil berteriak panik. Di tengah bising klakson kendaraan yang membahana, Fieny masih bisa mendengar manusia-manusia itu menyerukan kata “pengeboman”.

“Dasar bodoh! Kau hampir saja membunuhku! Apa kau gila hah?”

Angin menghantarkan suara makian itu ke telinga Fieny. Ia pun melangkah keluar dari tempat persembunyian. Ketika mendongak ke atas, dilihatnya wajah Airy yang gusar.

Dengan ekspresi cemberut ia menjawab, “Sayang sekali seranganku meleset. Kau sungguh beruntung bisa menghindarinya.”

Kekecewaannya tak bertahan lama ketika ia melayangkan pandangan jauh di atas kepala saingannya. Gumpalan awan tebal bergelayut di langit. Matahari telah selesai menunaikan kewajibannya sedangkan rembulan masih terpenjara di balik mendung pekat. Keadaan menjadi gelap gulita, hanya lampu-lampu sorot pada kendaraan dan tepian jalan yang masih berusaha memberi secercah penerangan.

Sebentar lagi, Fieny menahan diri. Tak lama lagi kesabarannya akan terbayar.

Gigi-gigi Airy bergemeretak menandakan kemarahan. Seketika Fieny merasakan hempasan angin yang sangat kuat hingga tubuhnya terpental beberapa meter ke belakang. Tak mengira akan mendapat serangan balasan secepat ini, ia tak sempat mengantisipasi dengan memanggil dinding air. Akibatnya, punggungnya menghantam dinding batu sebuah bangunan. Ia roboh dengan posisi kepala mencium tanah. Lecet-lecet menodai keelokan kulit tangan dan wajahnya. Darah segar mengalir dari ujung bibirnya.

“Kurang ajar!” serunya murka. Ia bangkit setelah menyeka darah.

Airy terkekeh menyaksikan keberhasilan pembalasannya. “Hukuman itu layak kau terima.”

“Aku takkan tinggal diam!”

Bertepatan dengan kemurkaannya, ritual pemanggilan hujan telah sempurna. Langit malam telah sepenuhnya tertutup awan hitam bergulung-gulung yang sarat muatan. Guntur menyambar dengan raungannya yang memekakkan telinga. Tetesan air mulai berjatuhan membasahi jalanan aspal.

“Kali ini kau takkan lolos,” gumam Fieny seraya menyeringai licik.

Airy sempat bertanya-tanya apa yang direncanakannya namun ekspresi bingung dalam sekejap berubah menjadi kesakitan. Titik-titik air hujan menjelma menjadi jarum runcing yang menggores seluruh kulitnya.

Fieny senang menikmati setiap detik penderitaan saingannya meski gadis itu bersikeras tak menjerit, malah berpaling ke bawah menyaksikan para manusia berlarian di tengah gerimis. Mereka memang berteriak panik tetapi bukan karena kesakitan. Tubuh mereka baik-baik saja.

“Tak perlu heran,” ucap Fieny menebak pikirannya. “Serangan ini hanya kutujukan untukmu, takkan berpengaruh pada makhluk lainnya.”

Darah mulai bercucuran dari pori-pori kulit Airy yang terluka karena tusukan jarum air. Fieny tahu saat ini gadis itu pasti tengah mengerahkan segenap tenaga untuk mengepakkan sayap-sayapnya yang kaku demi menjauh dari jangkauan awan-awan gelap yang memuntahkan jutaan air tajam. Tetapi kondisinya terlalu lemah sementara hujan terus menembus pakaian serta menusuki tubuh dan sayapnya.

“Percuma, kau sudah tak kuat lagi menghindar. Segeralah turun agar aku dapat mengukuhkan kemenangan!” Kedua tangan Fieny bersedekap. “Sesuai kesepakatan, jika aku berhasil membuatmu menapakkan kaki ke tanah, maka kau harus merelakanku menjadi pasangan Pangeran.”

Airy tak menjawab seolah rasa sakit yang terus mendera telah mengunci bibirnya. Hujan deras yang menggantikan gerimis membuat perih semakin menyiksa fisiknya sementara gemuruh petir yang sesekali menyambar memberi penerangan sesaat sekaligus memaksanya tetap terjaga.

Sekarang kau pasti menyesal telah menyulut perseteruan denganku, pikir Fieny puas. Karena kalau aku sudah serius, kau akan merasakan batas tertinggi kekuatanku.

Jarum air terus menghunjam. Mata Airy terpejam, pertanda tubuhnya tak kuat lagi menahan perih. Warna pakaiannya sudah tak dapat dibedakan dari cairan merah kental yang terus mengucur dari kulitnya.

Hati Fieny bersorak ketika melihat keseimbangan gadis itu goyah dan nyaris melayang jatuh.

Mendadak hujan deras mereda, kembali menjadi gerimis. Guntur tak lagi memamerkan kilatnya. Gumpalan awan hitam memudar. Ketika sang rembulan akhirnya terlepas dari jeratan mendung dan menghantarkan cahayanya, hujan telah sepenuhnya reda.

Apa yang terjadi? Fieny terperangah menyaksikan fenomena itu. Kebingungan melanda pikirannya. Seranganku terlanjur musnah sebelum kuhentikan!

Berkebalikan dengan kekalutannya, Airy tertegun mengamati sekitarnya. Jelas sekali bahwa gadis itu senang karena penderitaannya telah berakhir.

Apa ini? Belum sempat menemukan penyebab lenyapnya serangan jarum air, Fieny tiba-tiba merasakan aliran udara berhembus ke arahnya, mengangkat butiran pasir dan kerikil hingga beberapa senti di atas permukaan jalanan beraspal. Suatu sensasi yang aneh merasuki tubuhnya, memompa adrenalinnya dan membuat jantungnya berdebar jauh lebih cepat.

Datanglah!

Sebuah suara asing menyapa telinganya. Fieny tercengang lalu mengedarkan pandangan ke segala arah. Banyak manusia berlarian di sekitarnya sambil berteriak dengan ekspresi panik dan ketakutan tapi bukan itu yang ia cari. Sejauh mata memandang tak tampak sosok perempuan pemilik suara yang tenang dan menghanyutkan itu.

Fieny tersenyum ketika tanpa sengaja melihat seorang pemuda tampan berambut merah membara berlari menghampirinya. Jubah merah di punggungnya melambai-lambai dihembus angin, mengiringi langkah-langkah tegapnya.

Pangeran! ucap Fieny dalam hati namun tak ada kata yang mengalir dari bibirnya. Gadis itu berusaha keras untuk bersuara namun tenggorokannya seakan tercekat. Ia mencoba sekali lagi tetapi lidahnya terasa kelu dan mulutnya terkunci rapat. Bahkan yang terparah, tubuhnya tak dapat digerakkan.

Datanglah!

Lagi-lagi suara tanpa wujud itu terngiang dalam benaknya. Namun bedanya, kali ini perintah itu tidak berakhir begitu saja. Tubuh Fieny mulai bergerak sendiri. Rasanya ia ingin berteriak ketika kaki-kakinya mulai berlari, menyeretnya menjauh dari sosok pemuda yang dikaguminya. Otaknya berulang kali memerintahkan untuk berhenti tetapi fisiknya enggan menurut. Kelima inderanya masih berfungsi dengan normal, demikian juga dengan pikirannya yang tetap terjaga namun entah mengapa, ia kehilangan kendali atas tubuhnya.

Fieny melihat saingannya juga merasakan hal serupa. Sayap-sayapnya yang semula kaku akibat menerima tusukan jarum air bertubi-tubi, kini mulai menepak pelan, memaksa tubuhnya melayang ke arah yang juga dituju oleh Fieny.

Tolong aku, Pangeran! Fieny memohon tanpa suara meski ia tahu hal itu sia-sia belaka.

“Hei, tunggu! Kalian mau ke mana?” Terdengar suara Sang Pangeran yang tertinggal jauh dibelakangnya.

Entahlah! Fieny berseru dalam kebisuan sementara langkahnya terus menyusuri deretan gedung-gedung bertingkat. Kekalutan telah sepenuhnya menenggelamkan akal sehatnya.

Read next chapter