“Kakak tidak apa-apa?”

Arlayn tersentak dari lamunan saat sesuatu menyentuhnya. Tangan seorang gadis kecil. Anak itu mundur selangkah saat melihatnya membelalakkan mata.

Perlu beberapa detik bagi Arlayn untuk memulihkan pikiran, mengenyahkan kenangan buruk yang kadang muncul saat mengamati gadis di dalam cermin. Rupanya ia masih berada di dalam toko aksesoris. Beberapa pengunjung sedang memandangi deretan hiasan dinding atau pajangan meja, ada yang sedang membayar di kasir, tapi ada juga yang ketahuan mengawasinya lalu segera mengalihkan pandangan.

Menyadari sikapnya membuat gadis kecil di depannya agak ketakutan, Arlayn hendak meminta maaf, tapi gadis kecil itu menyelanya.

“Kenapa Kakak menangis?”

Eh? Spontan Arlayn mengusap matanya. Basah. Juga ada sisa air mata di pipinya. Astaga! Jangan-jangan tanpa sadar ia menangis saat teringat pengalaman tragis itu?

“Kakak baik-baik saja,” ujarnya lalu terburu-buru menghambur keluar toko, malu membayangkan dirinya sempat menjadi pusat perhatian.

Untunglah keadaan di luar sudah lebih bersahabat. Rombongan sirkus telah menghilang, menyisakan serpihan-serpihan bunga dan taburan kertas berwarna-warni di sepanjang jalan. Jalanan memang masih ramai tapi tidak terlalu padat. Arlayn melangkah tertatih-tatih di trotoar, melewati pepohonan rindang yang menaunginya dari terik matahari.

Sejak terjatuh dari tangga tujuh tahun lalu, ia hanya bisa berjalan dengan bantuan kursi roda atau tongkat. Hal yang menyedihkan memang, tapi tak semestinya ia mengeluh. Bagaimanapun juga, nasibnya jauh lebih beruntung daripada kedua orang tuanya yang meninggal karena serangan jantung.

Empat April tujuh tahun lalu. Hari yang takkan pernah dilupakannya dan akan selalu membekas dalam ingatan setiap orang. Hari itu pertama kalinya mereka bisa melihat orang-orang berwajah serupa di dalam cermin.

Ada yang mengatakan melihat kembarannya berambut merah dan mampu mengobarkan api; ada pula yang bermata biru dan dapat menurunkan hujan; sebagian lainnya bersumpah bahwa saudara kembarnya bertelinga lancip dan mampu membelah tanah, terbang dengan sayap-sayap transparan, atau berjari-jari tangan panjang seperti akar-akar pohon; lalu segelintir orang bersaksi bahwa saudara kembarnya biasa saja seperti halnya manusia pada umumnya.

Pengakuan mereka tak bisa dibuktikan kebenarannya karena masing-masing orang hanya bisa melihat orang berwajah serupa dan orang-orang di sekitarnya dalam jangkauan yang terbatas. Tapi mengingat dirinya sendiri melihat orang-orang berkulit pucat yang mampu memanipulasi salju, tidak tertutup kemungkinan keberadaan orang-orang lain yang mampu memanipulasi elemen-elemen alam lainnya.

Hal lain yang dipelajarinya dari rentetan peristiwa tragis itu adalah bahwa hari itu bencana alam tidak hanya terjadi di setiap kota di dunianya, tetapi juga di dalam cermin. Dan kesimpulan paling penting yang harus diterima oleh setiap orang—walaupun dengan berat hati—adalah bahwa kematian di dalam cermin akan berimbas pada kematian di dunia ini.

Sejak itulah, masyarakat menyadari adanya dunia lain. Dunia paralel yang dihuni oleh orang-orang berwajah sama. Dunia Cermin yang dihuni oleh diri mereka yang lain.

Kehidupan dan kematian pada satu dunia akan berimbas pada dunia lainnya. Karena kedua dunia harus selalu menjaga keseimbangan.

Arlayn berhenti saat menyadari ada yang mengikutinya. Ia berbalik dan mendapati gadis kecil di toko aksesoris itu berjalan mengendap-endap beberapa meter di belakangnya.

“Kenapa mengikutiku, Nona kecil?” tanyanya seraya menghampiri. Melihat anak itu diam saja, ia melanjutkan. “Kamu kemari bersama orang tuamu? Di mana mereka?”

Gadis kecil itu mengangkat bahu.

“Jadi kamu tersesat?” Wajahnya yang spontan memerah membuat Arlayn tersenyum geli. “Baiklah, akan kutemani sampai bertemu dengan orang tuamu.”

Kemudian mereka berjalan beriringan. Arlayn sengaja memperlambat kecepatan agar gadis kecil itu bisa mengimbanginya. Mereka melewati deretan pertokoan, menyeberangi lampu merah. Arlayn berpikir mungkin orang-orang akan mengira mereka sebagai adik dan kakak. Sejak dulu ia memang menginginkan seorang adik, sayang keinginan itu takkan pernah terwujud. Setidaknya ia merasa lega karena gadis kecil itu sama sekali tak terlihat malu berjalan di samping orang cacat sepertinya.

Mereka terus berjalan sambil menoleh ke sekeliling, kalau-kalau mereka mengenali wajah yang familier. Ia memang tidak tahu orang tua gadis kecil itu, tapi paling tidak mereka memiliki kemiripan wajah.

Saat tiba di ujung perempatan, gadis kecil itu mendadak berhenti. Ia berpaling ke arah sebuah rumah makan, memandangi etalase kaca yang penuh dengan makanan dan hidangan penutup berupa es krim beraneka rasa.

Arlayn menghela napas. Dibandingkannya harga rata-rata makanan dengan sisa uang yang dibawanya. Sepertinya masih cukup.

“Kelihatannya enak. Kamu ingin mencobanya?”

Gadis kecil itu mengangguk malu-malu.

Maka merekapun melangkahkan kaki memasuki rumah makan. Sebenarnya rumah makan itu sederhana tapi memberikan kesan mewah karena keindahan tatanannya: counter yang memamerkan bermacam-macam makanan, kue tar, dan es krim dengan berbagai pilihan topping, pelayan-pelayan yang mengenakan seragam berpita dan celemek berenda, juga lampu-lampu kristal elegan yang tergantung di langit-langit.

Saat mengamati daftar harga, hati Arlayn gelisah, khawatir gadis kecil itu akan memilih menu yang paling mahal. Tapi untungnya harga es krim yang dipilihnya termasuk standar. Setelah menyelesaikan pembayaran, mereka duduk di salah satu meja kosong.

Arlayn bersandar di sofa, menaruh tas punggung berat dan kedua tongkatnya di tepi meja. Diamatinya gadis kecil itu menikmati es krim coklat berbentuk seperti spageti, dengan krim berhias buah cherry, taburan kacang mete, dan lelehan coklat yang membeku. Tampaknya lezat. Tapi pantang baginya meminta makanan dari anak kecil.

Di layar televisi sedang disiarkan cuplikan iring-iringan sirkus yang tadi pagi sempat membuat macet jalanan hingga memaksanya mendekam di dalam toko aksesoris selama lebih dari satu jam. Ia tahu sirkus itu memang terkenal tapi tak menyangka mereka setenar itu sampai muncul di televisi. Berita itu menyebutkan bahwa rombongan sirkus itu sedang mengadakan perjalanan keliling negara. Lalu kamera menyorot seorang wanita cantik bernama Riesha yang berdiri di atas mobil karnaval sedang melambaikan tangan ke arah para penonton yang berjejalan di tepi jalan sambil berebutan memotretnya. Ia mengenakan gaun sutra putih dan kain transparan yang menutupi rambut panjang kecoklatannya, juga untaian perhiasan di kepala yang berujung pada bulatan hitam di tengah kening. Kabarnya, di kota-kota yang sempat mereka singgahi selalu terjadi antrian panjang di stand wanita itu. Banyak orang yang rela menunggu hingga berjam-jam hanya untuk diramal atau disembuhkan olehnya. Wanita itu memang terkenal dengan keakuratan ramalan dan kemampuan menyembuhkan berbagai macam penyakit dengan seketika.

Arlayn mendengus. Baginya ramalan sama dengan omong kosong. Tak ada manusia yang mampu melihat masa depan. Yang ada hanyalah para penipu yang gemar mengumbar ramalan-ramalan indah hanya untuk meyakinkan orang lain akan kemampuan meramalnya. Dan orang-orang memang cenderung percaya pada sesuatu yang sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

Suara dentingan sendok membuat Arlayn mengalihkan pandangan. Gadis kecil itu sudah melahap habis es krimnya.

“Siapa namamu, Nona kecil?” tanya Arlayn yang baru tersadar bahwa mereka belum berkenalan.

“Rhea.”

“Nama Kakak Arlayn. Jadi, kamu sudah ingat di mana orang tuamu?”

Rhea menggeleng.

Sepertinya Arlayn terpaksa menemani gadis kecil itu lebih lama lagi. Tapi kalau mereka tidak juga bisa menemukan orang tua gadis kecil itu, apa yang harus ia lakukan? Melaporkan gadis kecil itu ke polisi? Fotonya akan terpampang di televisi dan surat-surat kabar sebagai anak hilang. Membuatnya jadi terkenal dalam sekejap, tapi bukan dalam konteks yang baik.

Tidak. Itu bukan keputusan yang bijaksana. Selama masih ada alternatif lain, ia takkan melakukannya.

Gadis kecil itu tiba-tiba berdiri. Dengan sigap Arlayn menarik lengannya.

“Mau ke mana?”

“Toilet.”

Dilepasnya tangan gadis kecil itu. Lalu Arlayn buru-buru meraih tongkat dan berjalan di belakangnya. Aneh. Meski baru bertemu beberapa menit yang lalu, ia sudah merasa khawatir akan kehilangan gadis kecil itu. Mungkin kenyataan bahwa anak itu terpisah dari orang tuanya membuatnya merasa menemukan teman senasib?

Mereka menuju toilet yang berada di ujung belakang rumah makan. Sambil menunggu gadis kecil itu, Arlayn tersadar beberapa meter di depannya adalah tempat mencuci tangan. Dan tentu saja, benda itu ada di sana. Sebuah cermin besar.

Tidak! Dicobanya mengalihkan pandangan. Kejadian di toko aksesoris tadi sudah cukup memalukan. Jangan sampai hal itu terulang lagi. Sudah terlalu sering ia mengamati dirinya yang lain, sampai ia hafal dengan cara gadis itu berjalan, sikapnya yang tegas dan berwibawa, tak pernah menundukkan kepala, raut mukanya yang tanpa ekspresi, level kekuatannya, hingga makanan favoritnya.

Tapi meski telah berusaha keras, pada akhirnya rasa penasaran membuat Arlayn berpaling. Dilihatnya gadis itu masih berada di tempat yang sama. Berdiri di tengah hujan salju yang menutupi pepohonan kering. Ia tampak mempesona, entah karena ketegasan sikapnya, sorot matanya yang lurus, pakaiannya yang anggun, mahkotanya yang menyilaukan, atau bawahan-bawahan yang seakan tak pernah lelah berlutut mengitarinya.

Selama bertahun-tahun Arlayn sangat mengaguminya. Semenjak gadis kecil tujuh tahun lalu itu berhasil bertahan hidup dari letusan gunung berapi, meski sampai sekarang ia masih bertanya-tanya bagaimana caranya. Tapi sudah sepantasnya jika ia bersyukur memiliki sosok lain yang begitu tangguh. Yang secara tak langsung membuatnya terus hidup sampai sekarang.

“Usiaku sudah genap tujuh belas tahun.”

Arlayn tersentak.

“Sebagaimana kekuatanku yang semakin berkembang, aku telah memperoleh pengakuan dari Salju Abadi.”

Suara itu… Persis seperti suaranya. Tapi ia yakin mulutnya terkunci. Mungkinkah…?

Dilihatnya gadis itu menggerakkan bibir lagi. Dan kalimat berikutnya terdengar bersamaan.

“Hal apa lagi yang masih kalian sangsikan?”

Arlayn hampir memekik. Suara itu benar-benar berasal dari dirinya yang lain!

Ia mendekat ke cermin. Gadis itu begitu nyata berada di depannya, dan terasa semakin nyata saat ia berbicara. Tidak hanya wajah, suaranya juga sama. Tentu saja! Gadis itu adalah dirinya yang lain. Betapa bodohnya! Bahkan hal sesederhana itu tak pernah terbersit dalam pikirannya.

Tapi bagaimana mungkin? Selama ini Dunia Cermin selalu membisu, tak satupun manusia bisa mendengar suaranya. Bahkan percobaan para ilmuwan tak pernah membuahkan hasil. Lalu mengapa ia tiba-tiba bisa mendengar suara gadis itu? Apakah ini halusinasi?

Arlayn mencubit sebelah pipinya. Sakit. Ia mencubit pipi satunya dan meringis kesakitan lagi.

“Tujuh tahun telah berlalu.” Gadis itu berbicara lagi. “Tapi kemarahan ini tak pernah sirna, seperti halnya aku tak pernah melupakan bencana itu dan wabah kematian yang dibawanya.”

Ingatan Arlayn menerawang sekilas ke peristiwa tujuh tahun silam yang menewaskan orang tuanya dan banyak orang lainnya. Seperti halnya dirinya yang lain, ia juga masih belum bisa melupakan kejadian tragis yang mengubah hidupnya.

“Satu-satunya cara membawa kedamaian untuk Klan Salju dan untuk Elementiera adalah dengan membalas dendam pada orang yang bertanggung jawab atas bencana itu. Celestrion.”

Hening sejenak. Sementara benak Arlayn dipenuhi pertanyaan berkat hal-hal asing yang baru didengarnya.

Gadis itu mengangguk. “Aku paham kekhawatiran kalian. Sebagaimana kekuatan besar yang dimilikinya, Celestrion adalah orang yang paling berbahaya. Dan Dunia Mannusha yang ditinggalinya juga merupakan tempat yang berbahaya bagi Elementer.” Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Tapi bagaimanapun, aku harus menemuinya. Sekaligus menemui diriku yang lain.”

Arlayn terkesiap. Para bawahan yang berlutut juga spontan mendongakkan kepala, tak kalah terkejutnya. Mereka mengucapkan sesuatu secara bersamaan—sesuatu yang sayangnya tak bisa didengar Arlayn betapapun ia menajamkan telinga.

“Kalian tak perlu cemas.” Gadis itu kembali angkat bicara, membuat para bawahannya serentak menutup mulut. “Aku sudah memperhitungkannya. Semuanya akan baik-baik saja.”

Belum sempat Arlayn memulihkan keterkejutannya, mendadak sesuatu menyentuhnya. Ia berpaling dan mendapati Rhea menarik-narik bajunya.

“Ayo.”

Gadis kecil itu terlanjur pergi sebelum Arlayn sempat mencegahnya. Sebenarnya Arlayn masih ingin mendengar kelanjutan pembicaraan dirinya yang lain. Tapi saat ia berpaling ke cermin, gadis itu masih berbicara tapi suaranya tak lagi terdengar. Dunia Cermin kembali membisu. Arlayn kecewa. Maka diputuskannya mengejar gadis kecil itu.

Keduanya melanjutkan perjalanan menyusuri trotoar. Sesekali Arlayn menoleh ke sekeliling, mencari-cari sosok yang mirip seperti Rhea, lalu kembali tenggelam dalam lamunan.

Klan Salju? Apa itu sebutan untuk mereka yang memiliki kemampuan memanipulasi salju? Seperti halnya orang-orang di dunia ini terklasifikasi berdasarkan bangsa-bangsa, orang-orang di Dunia Cermin—atau lebih tepat disebut sebagai Elementiera?—terbagi atas klan-klan berdasarkan kekuatan elemen yang mereka kuasai? Apa yang dimaksud dengan Salju Abadi? Sebenarnya ada berapa klan di Elementiera? Berapa macam elemen yang mereka kuasai? Bagaimana mereka bisa memiliki kekuatan itu? Dan siapa Celestrion? Benarkah ia penyebab bencana tujuh tahun silam? Tapi bagaimana mungkin satu orang bisa menyebabkan kehancuran di dua dunia?

Arlayn menggaruk-garuk kepala. Semakin banyak hal yang diketahuinya, semakin banyak pertanyaan yang muncul, semakin tinggi rasa penasarannya.

“Mama! Chyan!”

Teriakan Rhea membuyarkan lamunannya. Gadis kecil itu melambai-lambaikan tangan dengan bersemangat, sementara seorang wanita paruh baya dan anak laki-laki kecil di seberang jalan membalas lambaiannya. Saat mereka menghampiri, Arlayn bisa melihat kemiripan wajah wanita itu dengan Rhea.

“Kami mencarimu ke mana-mana,” ujar wanita itu seraya mengusap rambut putrinya, sementara anak laki-lakinya memeluk gadis kecil itu.

“Tadi Rhea tersesat. Kami bertemu di sebuah toko aksesoris. Ah, nama saya Arlayn.”

“Terima kasih sudah menjaga putri saya, Nona Arlayn. Kami kehilangan Rhea saat sedang menyaksikan iring-iringan rombongan sirkus. Untung saja Rhea bertemu dengan orang yang baik. Saya harap dia tidak merepotkan Nona.”

“Tentu saja tidak,” jawab Arlayn seraya tersenyum. Kalau dipikir-pikir, satu-satunya kerugian yang ditimbulkan gadis kecil itu hanyalah harga menu es krimnya yang menghabiskan hampir seluruh sisa uangnya.

“Kalau begitu, kami pulang dulu.” Wanita itu mengangguk sebelum berbalik.

“Sampai jumpa, Rhea. Jangan sampai tersesat lagi,” kata Arlayn seraya melambaikan tangan.

Namun bukannya membalas, gadis kecil itu terlihat bingung. Menatapnya dengan ekspresi bertanya-tanya seakan mereka tak pernah bertemu. “Kakak siapa?”

Eh? Arlayn tercengang. Dia tidak mengenaliku?

“Maaf, Rhea memang mengidap penyakit amnesia.” Wanita itu buru-buru menjelaskan. “Ingatannya hanya bertahan paling lama satu hari, tapi seringkali baru beberapa jam saja ia sudah lupa.”

Aneh. Padahal sejak tadi gadis kecil itu terlihat normal. Arlayn tak menyangka ternyata ia menderita penyakit separah itu. “Nyonya tidak memeriksakannya ke dokter?”

“Sudah, tapi kata dokter tak ada kerusakan otak sama sekali. Jadi, saya pikir mungkin kami akan mencoba pengobatan alternatif. Seperti peramal di sirkus tadi.”

“Ah, wanita yang diberitakan di televisi itu.”

Mereka kemudian berpisah. Arlayn melanjutkan perjalanan seorang diri. Matahari hampir terbenam, lampu-lampu jalanan telah menyala otomatis. Embusan angin dingin membuatnya menggigil. Ia mengeluarkan syal dari dalam tas, melilitkannya di leher, lalu mempercepat langkah agar bisa tiba di rumah sebelum gelap.

Hari ini ada banyak hal yang terjadi. Kematian pria terkaya, pertemuan dengan gadis kecil yang amnesia, tapi yang paling aneh adalah saat ia bisa mendengar suara dirinya yang lain.

Gadis Klan Salju itu tahu tentang dirinya dan ia berniat datang ke dunia ini untuk menemuinya. Sudah lama ia menantikan pertemuan itu. Tentu saja ia akan menyambutnya. Namun sebelum itu, ada yang harus ia lakukan. Menyembuhkan kakinya yang cacat.

Selama ini Arlayn tak pernah berniat mengobatinya karena menganggap kecacatan itu sebagai pengingat akan kematian orang tuanya. Pengingat agar ia tetap tegar dan  tak menyia-nyiakan keberuntungannya dengan terus bertahan hidup. Tapi kali ini berbeda. Gadis dari Dunia Cermin itu akan menemuinya. Setidaknya, walaupun perbedaan kekuatan di antara mereka sangat signifikan, ia tak ingin terlihat lemah. Ia ingin bisa berdiri tegak di atas kedua kakinya sendiri saat mereka berdua berhadapan.

Tapi siapa yang bisa menyembuhkan kakinya? Terapi medis mungkin akan memerlukan waktu lama, sementara gadis itu bisa datang sewaktu-waktu. Tidak. Ia harus mencari pengobatan alternatif yang lebih singkat. Seseorang yang bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit dengan cepat. Seorang wanita yang sudah tersohor dengan keakuratan ramalannya.

Arlayn menghela napas. Ia memang tidak percaya pada ramalan, tapi mungkin tidak ada salahnya mencoba percaya pada kemampuan menyembuhkan wanita itu. Ia hanya berharap berita di televisi itu bukan sekedar kabar burung dan wanita itu tidak menarik biaya pembayaran yang terlalu mahal.

Puas dengan ide cemerlangnya, Arlayn berjalan sambil bersiul-siul riang. Tak lama lagi ia akan bertemu dengan gadis yang selama bertahun-tahun hanya bisa dilihatnya di cermin. Gadis penguasa salju. Dirinya yang lain.

* * * *