Bab 1
Dunia Cermin

Arlayn tahu kematian bisa menjemputnya kapanpun.

Seperti yang dialami oleh pria berjas hitam itu. Beberapa menit yang lalu ia datang dengan mobil limosin, berjalan memasuki toko dengan didampingi dua pengawalnya yang berbadan kekar dan bertampang sangar. Namun sekarang, ia tak lebih dari seonggok mayat di trotoar yang hanya mampu menarik perhatian sesaat para pejalan kaki.

Tak ada kehebohan. Tak ada kerumunan manusia. Tak ada tangisan pilu. Ironis memang, mengingat bahwa pria itu dikenal sebagai orang terkaya di kota yang wajahnya sering menghiasi layar televisi dan ke mana-mana selalu ditemani para pengawal kepercayaannya.

Selama ini pria itu selalu terlihat bugar, tanpa catatan penyakit kronis apapun. Tapi tak perlu heran, di dunia ini memang tak ada jaminan kelangsungan hidup. Bahkan orang dengan kesehatan paling prima sekalipun, bisa mendadak terkena serangan jantung fatal dan tak tertolong lagi.

Semua orang mengetahui kenyataan pahit itu. Ada kalanya, mereka menangisi kepergian kerabat yang meninggal. Tapi sejak beberapa tahun terakhir ini, orang-orang mulai belajar menerimanya. Dunia memang harus selalu menjaga keseimbangan.

Dari kejauhan, sebuah mobil van gelap mendekat. Mobil itu memang sering terlihat berpatroli di jalan-jalan raya, menanggapi telepon dari masyarakat yang mengadukan tentang kematian di sekitar mereka. Mungkin salah satu pengawal telah melaporkan kematian majikannya sehingga Departemen Kematian bisa segera mengurusnya.

Para petugas berseragam hitam turun dari van, menghampiri mayat pria kaya itu. Hanya dalam hitungan detik mereka telah menaikkan mayat ke tandu, memasukkannya ke dalam van, dan meluncur pergi. Bahkan kebanyakan orang tak menyadari kehadiran mereka, kecuali tentu saja jika orang itu sengaja memperhatikan sejak awal, seperti yang Arlayn lakukan.

Kemungkinan besar pria itu akan disemayamkan di pemakaman di sebelah selatan kota, mengingat pemakaman di utara sudah penuh karena banyaknya manusia yang meninggal akibat serangan jantung mendadak dalam tujuh tahun terakhir ini. Sementara pemakaman di barat dan timur masih dalam tahap pembangunan. Semoga saja jika kematiannya tiba—bukan berarti Arlayn berharap hidupnya akan cepat berakhir—pemakaman-pemakaman itu sudah siap dihuni.

Arlayn berpaling ke arah toko yang sempat dimasuki pria itu sebelum meninggal. Ralat: itu bukan toko, melainkan sebuah butik. Berbagai pakaian terbuat dari sutra terpajang di etalase. Penasaran, Arlayn memasuki butik, meski ia sadar bahwa harga pakaian-pakaian itu berada di luar jangkauannya. Tapi toh tak ada larangan untuk sekadar mencari hiburan pencuci mata.

Sesaat ia terpukau dengan kemewahan butik itu, yang sekaligus menjadi daya tarik bagi orang-orang kaya untuk datang berkunjung. Lantai marmernya mengkilap hingga ia bisa melihat pantulan bayangannya sendiri. Di sekeliling dinding bagian dalamnya terpasang cermin, membuat ruangan luas dan terang-benderang itu terkesan jauh lebih luas. Manekin-manekin wanita berjajar anggun, mengenakan pakaian sutra putih berhias renda, pita, bunga, atau untaian perhiasan dari emas dan perak. Sementara patung prianya memakai pakaian sutra putih dengan aksesoris minimal.

Arlayn tersenyum. Sutra dan putih sudah terlalu sering dilihatnya. Dua hal sederhana itu memang lebih lazim ditemukan pada era peradaban masa silam, namun sudah beberapa tahun terakhir ini keduanya menjadi pusat tren fashion masa modern.

Terutama sejak masyarakat mengenal Dunia Cermin.

Sekarang pun Arlayn sedang berdiri di depan cermin memandangi pantulan dirinya: seorang gadis berambut hitam pendek, berdiri dengan bersandar pada dua tongkat, berkulit sawo matang, mengenakan kemeja, celana panjang, dan sepatu kets, sambil menyandang tas punggung yang berat karena buku-buku kuliah tebal. Penampilan seorang mahasiswi kedokteran biasa. Yang cacat.

Namun saat ia merasa bosan dengan dirinya yang jauh dari kesempurnaan, pantulan di cermin itu akan berubah. Kini yang terlihat adalah sosok seorang gadis mengenakan gaun sutra panjang berenda dengan untaian perhiasan di pinggang. Rambut putihnya kadang dibiarkan tergerai memanjang, namun kali ini tertata anggun dengan hiasan mahkota yang menyilaukan.

Gadis itu sedang berdiri di tengah pepohonan kering, menengadah seraya memandangi butiran-butiran salju yang berjatuhan dari langit. Dengan kulit yang sangat pucat dan pakaian serba putih, ia nyaris tak dapat dibedakan dengan pemandangan sekitarnya.

Lagi-lagi Arlayn merasa iri melihat gadis itu mampu berdiri dengan mantap di atas kedua kakinya sendiri. Ditambah dengan segala kelebihannya, wajar jika gadis itu tampak begitu istimewa di mata Arlayn. Namun ada kenyataan lain yang lebih membuatnya tertarik. Dilihat dari sudut manapun, wajah gadis itu sama persis dengannya!

Tidak. Gadis itu bukan saudara kembarnya karena Arlayn terlahir sebagai anak tunggal di keluarga sederhana. Sementara gadis itu, dengan penampilannya yang mempesona, mahkota bertahtakan berlian, dan orang-orang berkulit pucat yang berlutut mengelilinginya sambil menundukkan kepala dengan khidmat, jelas terlihat bahwa ia berasal dari kasta yang jauh lebih tinggi.

Suara langkah-langkah kaki memasuki butik menyadarkan Arlayn dari lamunan. Bergegas ia keluar, meninggalkan orang-orang kaya yang segera sibuk memilih pakaian sutra atau diam mematut diri di depan cermin, memandangi sosok siapapun yang terpantul di sana.

Suasana di luar butik justru jauh lebih ramai. Kerumunan manusia berjejalan di tepi jalan utama. Arlayn lupa bahwa hari ini rombongan sirkus terkenal singgah di kotanya, padahal berita itu ramai disiarkan di televisi dan surat kabar. Tentu saja banyak orang memadati jalanan untuk menyaksikan iring-iringan kendaraan sirkus yang dihias meriah. Suara genderang, terompet, dan nyanyian bercampur memekakkan telinga. Dengan mengenakan pakaian sutra serba putih, para personil sirkus beratraksi di jalan: melompat, bersalto, menari, atau menebarkan kelopak-kelopak bunga dan kertas beraneka warna. Sisanya berdiri di atas kendaraan sambil melambaikan tangan, menjadi objek jepretan kamera para penonton.

Ah, benar-benar hari yang tidak tepat untuk keluar rumah. Setidaknya bagi orang cacat.

“Permisi,” ujarnya berkali-kali, sambil berjalan tertatih-tatih menerobos lautan manusia, berusaha mengabaikan hiruk-pikuk keceriaan dan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Beberapa kali terdengar kata “maaf” saat orang-orang tanpa sengaja menyenggol bahunya. Tidak sakit memang, tapi tetap saja membuat Arlayn harus bersusah-payah menjaga keseimbangan agar tak terjatuh dan terinjak-injak.

Namun segigih apapun usahanya, ada kalanya kerumunan menjadi terlalu padat hingga tak menyisakan ruang untuk bernapas. Saat itulah, Arlayn terpaksa harus masuk ke salah satu toko, untuk beristirahat membuang waktu sampai menemukan celah untuk kembali menerobos.

Berusaha menunjukkan minat membeli agar tak diusir keluar toko, Arlayn mengamati secara acak barang-barang aksesoris yang dijual. Ada hiasan dinding, pajangan meja, pakaian, dompet, sampai gantungan kunci. Sayang tak satupun menarik perhatiannya, mungkin karena ia memang bukan orang yang menggemari aksesoris, atau mungkin karena ia orang yang hemat. Beberapa kali ia mengerling pintu kaca, mengamati kalau-kalau keadaan di luar sudah menjadi sedikit bersahabat, namun sesering itu pula ia harus menelan kekecewaan.

Setelah berkeliling memutari toko, lagi-lagi Arlayn menemukan sebuah cermin besar. Benda itu memang selalu ada di setiap bangunan seakan menjadi simbol keingintahuan manusia. Ketika bercermin, bayangan dirinya hanya muncul sekejap sebelum akhirnya berganti menjadi sosok gadis berambut putih dengan kulit sepucat salju.

Gadis itu masih berdiri di tempat yang sama, dikelilingi pepohonan kering, hamparan salju, dan bawahan-bawahan yang berlutut mengitarinya. Dari keseriusan ekspresi wajah mereka, Arlayn menduga mereka sedang mendiskusikan sesuatu yang penting. Tapi meski sudah menajamkan telinga, ia tetap tak bisa mendengar apapun. Dan mengamati gerak bibir jelas bukan hal yang dikuasainya.

Sungguh mengecewakan! Semua orang di dunia ini merasa penasaran dengan segala hal yang berkaitan dengan Dunia Cermin. Namun selama ini mereka harus puas hanya dengan melihat, tanpa mampu mendengar atau meraba. Para ilmuwan pun tak tinggal diam. Sudah bertahun-tahun mereka melakukan riset, berusaha menghilangkan keterbatasan ini, tapi belum membuahkan hasil sedikitpun. Dunia Cermin seakan membisu dan tak berbentuk.

Lagi-lagi Arlayn mengintip pintu kaca. Ramai. Tampaknya ia masih harus berdiam di dalam toko lebih lama lagi. Itu berarti ia punya banyak waktu untuk mengamati sang gadis berkulit pucat, seperti yang selama ini ia lakukan. Arlayn tahu kebiasaan buruk itu harus dihilangkan, tapi pesona gadis itu terlalu sulit ditolaknya. Berapa kalipun ia berusaha memalingkan wajah, pada akhirnya pikirannya akan kembali membayangkan gadis itu, dan menjeratnya dengan rasa penasaran yang tak pernah terpuaskan dengan pengamatan selama apapun. Walaupun ia sadar, memandangi sosok gadis itu selalu bisa membangkitkan kenangan buruk yang dikuburnya dalam-dalam.

Segalanya berawal pada musim semi tujuh tahun silam, saat usianya sepuluh tahun. Ia ingat hari itu hari Sabtu di awal bulan April. Matahari bersinar cerah mencairkan sisa-sisa salju, tunas-tunas hijau bermunculan di batang pepohonan, dan kuncup-kuncup bunga mulai bermekaran. Di hari yang indah itu keluarganya berencana pergi ke tempat wisata.

Arlayn kecil berlari-lari riang—tentu saja dengan kedua kakinya yang normal—, mengenakan sweater putih yang melindungi dari dinginnya embusan angin musim semi, sementara kedua orang tuanya berjalan di belakang sambil memperingatkannya agar berhati-hati.

Mereka bersenang-senang seharian, mencoba berbagai wahana permainan: roller coaster, komidi putar, rumah hantu; mengunjungi museum; melihat koleksi tumbuhan, serangga, burung, dan kupu-kupu; menyaksikan atraksi hewan-hewan yang sudah terlatih; juga berfoto bersama badut-badut yang lucu.

Arlayn benar-benar merasa bahagia hari itu. Sudah lama ia memimpikan bisa bertamasya bersama kedua orang tuanya. Selama ini mereka lebih sering sibuk di kantor, pulang larut malam, dan tak pernah punya waktu luang untuk bermain dengannya. Setiap hari ia harus puas bermain dengan boneka-bonekanya yang tentu saja tak pernah membalas sapaannya. Tapi hari ini berbeda. Orang tuanya ada bersamanya, menemaninya ke manapun ia pergi. Dan itu sudah cukup baginya.

Namun kebahagiaannya hanya bertahan sebentar.

Arlayn jatuh terjerembab. Hampir saja ia menangis, merasakan wajahnya perih tergores kerasnya aspal. Tapi ibunya segera berlutut dan mengusap pipinya dengan lembut.

“Hati-hati,” ujar ibunya seraya membantu Arlayn berdiri.

Tapi Arlayn merasa aneh. Jalanan yang dilewatinya memang tidak terlalu mulus, ada batu-batu kerikil yang berserakan. Tapi ia yakin, bukan kerikil-kerikil itu yang membuatnya terjatuh. Tepat sebelum terjatuh, ia sempat merasakan–walau hanya sekejap–tanah di bawah kakinya bergetar. Getaran yang lemah, namun cukup kuat untuk menjatuhkan seorang anak kecil.

Tidak. Arlayn menggeleng. Itu pasti hanya imajinasinya. Bagaimanapun, jatuh karena terpeleset atau tersandung batu terdengar lebih masuk akal.

Baru saja mereka hendak menuju wahana lain, mendadak tanah berguncang hebat. Dentumannya memekakkan telinga. Arlayn terjatuh lagi, hilang keseimbangan. Para pengunjung berhamburan keluar dari wahana-wahana. Dalam sekejap suasana menjadi sangat ramai, penuh teriakan panik.

Apa yang terjadi? Gempa bumi?

Belum sempat ibunya membantunya berdiri, guncangan berikutnya terjadi. Kali ini disertai bunyi yang sangat nyaring. Permukaan jalan bergelombang, melonjak ke atas, lalu dihempaskan ke bawah, bagaikan didorong dan ditarik oleh kekuatan besar dari dalam tanah. Retakan demi retakan mulai bermunculan, menjalar dengan cepat ke segala arah seperti ular raksasa yang kelaparan.

Dan retakan itu menjalar ke arahnya.

Arlayn menjerit. Tepat sebelum tanah di bawah kakinya terbelah, sang ayah meraih tubuhnya. Tanpa membuang waktu sedetikpun, mereka berlari menjauh.

Di belakangnya jalanan terbelah, patahannya bergeser saling menjauh, menciptakan lubang hitam yang semakin membesar. Orang-orang berlarian. Namun kekalutan mereka bagaikan magnet yang menarik mereka jatuh ke dalam lubang yang tak berdasar.

Guncangan-guncangan berikutnya saling menyusul. Permukaan tanah bagaikan ombak bergelombang. Pohon-pohon tumbang. Bangunan-bangunan roboh. Museum, rumah hantu, bianglala longsor ke dasar lubang, beserta manusia-manusia yang berada di sekitarnya.

Ngeri, Arlayn memejamkan mata. Tapi bahkan dalam kegelapan pun, ia masih sanggup mendengar suara napas ayahnya yang terengah-engah berlari sambil menggendongnya; juga kata-kata ibunya yang berusaha menenangkan rasa takutnya dengan mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja, bahwa mereka akan melindunginya, bahwa keadaan akan kembali normal seperti sedia kala. Namun suara patahan yang semakin keras bercampur dengan jeritan dan erangan malah membuat ketakutannya semakin menjadi-jadi.

Bagaimana kalau patahan itu sampai menelan mereka? Bisakah mereka selamat jika jatuh ke dasar lubang?

Entah sudah berapa lama ayahnya menggendongnya berlari ketika akhirnya mereka mencapai pintu keluar. Para petugas segera membimbing mereka ke tempat yang aman. Bersama para pengunjung lain yang selamat, mereka kemudian menaiki bus dan melaju meninggalkan tempat wisata.

Arlayn mengamati para penumpang lainnya. Kulit mereka lecet, memar, dan ada juga yang berdarah. Mungkin saat berusaha menyelamatkan diri, mereka terjatuh atau tertimpa sesuatu. Ini bukan saat yang tepat, tapi diam-diam Arlayn bersyukur karena orang tuanya tidak terluka sedikitpun.

“Jangan takut, semuanya akan baik-baik saja.”

Ketakutan Arlayn mereda saat melihat senyum ibunya yang menyejukkan. Ia sadar bahwa bencana telah berakhir. Bahwa keadaan akan kembali normal seperti sedia kala. Bahwa tragedi ini akan segera terlupakan.

Namun ia salah. Kenyataannya, keadaan di luar tidak lebih baik.

Permukaan jalan raya tak lagi mulus. Retakan dan lubang-lubang berserakan bagaikan ranjau yang siap menelan korban. Lalu lintas macet. Kendaraan-kendaraan berbaris mengekor hingga ujung terdepannya tak tampak lagi. Bunyi klakson meraung-raung tanpa hasil, sementara para petugas sibuk menyelamatkan korban-korban yang terperosok ke dalam lubang.

Merasa tak aman diam menunggu di dalam bus yang tak maju sejengkalpun, terutama dalam ancaman gempa yang sewaktu-waktu bisa menyerang tanpa peringatan, para penumpang memutuskan turun. Arlayn berjalan mengikuti orang tuanya sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku sweater. Udara dingin menusuk tulang. Matahari telah menghilang ditelan gumpalan mendung hitam, membuat sore itu tak ubahnya seperti malam-malam gelap tanpa cahaya.

Mereka berjalan tanpa arah di sela-sela kendaraan, hanya bertekad terus maju tanpa mempunyai tujuan yang pasti. Rombongan besar itu pun terpecah menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil.

Untunglah saat kaki Arlayn lelah, kelompok itu akhirnya menemukan tempat berlindung. Sebuah gedung rumah sakit di pinggiran kota. Satu-satunya bangunan yang masih berdiri kokoh, sementara gedung-gedung lainnya telah runtuh ditelan bumi. Patahan dan retakan yang begitu liar di jalanan seakan tak mampu mengusik ketenangan gedung rumah sakit itu. Bahkan halamannya yang luas masih mulus, seolah ada perisai tak kasat mata yang melindungi bangunan itu, membuatnya tak tersentuh bencana.

Kegaduhan menyambut di pintu rumah sakit. Banyak orang menyerbu pintu keluar, sebagian adalah para pasien yang masih mengenakan seragam serba hijau dengan perban di kepala, tangan, kaki, atau bagian tubuh lainnya. Bahkan ada orang-orang lumpuh di kursi roda atau orang tua menggendong bayi mungil yang masih merah.

Saat keluarganya mencari perlindungan di rumah sakit itu, orang-orang di dalamnya malah berebutan keluar. Mungkin mereka berpikir, berdiam di dalam gedung bukanlah cara paling aman untuk bertahan dari gempa bumi. Bangunan-bangunan bisa runtuh kapanpun dan menimpa siapapun yang berada di dalamnya. Kecuali ada jaminan bahwa tanah dan bangunan itu takkan longsor, setidaknya itulah yang dipikirkan kelompok Arlayn hingga mereka memutuskan untuk melawan logika.

Kelompok itu menaiki tangga karena lantai dasar telah dipadati lautan manusia. Satu demi satu orang-orang yang terluka segera mendapat perawatan medis. Arlayn dan orang tuanya menanti dengan sabar sampai keadaan di luar cukup aman dan memungkinkan mereka pulang ke rumah. Itupun kalau rumah mereka masih berdiri tegak.

Suara rintihan, keluh kesah, dan isak tangis membuat Arlayn terenyuh. Banyak yang kehilangan orang yang mereka sayangi akibat bencana itu. Ironis memang, mengingat hari ini seharusnya menjadi hari paling membahagiakan dalam hidupnya, hari ketika orang tuanya bisa meluangkan waktu untuk menemaninya bermain. Banyak kesenangan dan canda tawa, tapi semuanya seakan terhapus oleh tangisan pilu dari mereka yang ditinggalkan. Hari yang akan selalu membekas dalam ingatan.

Ketenangan Arlayn terusik saat beberapa orang melintas melewatinya. Mula-mula hanya sedikit, namun lama-lama kerumunan di ujung koridor itu semakin membengkak. Mereka berdesakan mengerubungi sesuatu di dinding. Wajah mereka tegang, mata terbelalak, dan sekejap kemudian mulai berteriak-teriak. Beberapa di antara mereka bahkan roboh tak sadarkan diri hingga menimbulkan kegaduhan saat yang lain memanggil perawat.

Arlayn dan orang tuanya mendekat, berusaha mencari tahu apa yang terjadi. Mereka mendesak kerumunan hingga tiba di barisan terdepan dan mendapati sebuah cermin besar dengan tinggi hampir seukuran orang dewasa terpajang di dinding.

Sesaat Arlayn bertanya-tanya, apa keistimewaan cermin itu hingga menarik perhatian banyak orang. Sebuah cermin biasa, dengan pinggiran polos tanpa ukiran. Ia bisa melihat pantulan dirinya dan orang tuanya yang menatap heran di tengah kerumunan manusia yang panik.

Namun detik berikutnya pantulan itu menghilang, berganti dengan pemandangan yang jauh lebih mengerikan daripada bencana yang baru saja ia alami.

Gumpalan awan pekat menaungi langit, membuat keadaan begitu gelap sementara debu-debu hitam yang bertebaran di udara memperkeruh pandangan. Hanya pijar lava panas yang menyembur dari puncak gunung memberi penerangan. Lava itu mengalir deras menuruni lereng, melumat kompleks istana beserta rumah-rumah kecil beratap putih yang dibangun di atasnya. Orang-orang berkulit pucat berlarian menuju lembah sambil terbatuk-batuk dan kesulitan bernapas. Beberapa dari mereka yang terjatuh atau pingsan karena keracunan, meleleh tersapu lahar tanpa menyisakan sehelai rambut pun.

Arlayn nyaris menjerit, namun matanya tiba-tiba terpaku pada seseorang. Sesosok gadis kecil berambut putih dengan kulit sepucat salju. Ada sobekan dan bekas hangus pada pakaiannya yang terbuat dari sutra putih. Sebenarnya penampilan gadis itu tak mencolok dibandingkan orang-orang di sekitarnya dan Arlayn hampir-hampir tak menyadari keberadaannya sampai gadis itu berpaling menghadapnya.

Wajah gadis itu sama persis dengannya. Mata, hidung, mulut, pipi, telinga, semuanya sama! Bahkan wajah pria dan wanita di dekat gadis itu juga persis dengan wajah orang tuanya. Bagaikan melihat saudara kembarnya dan saudara kembar orang tuanya berdiri di balik cermin, tapi dengan pemandangan yang jauh berbeda.

Pria dan wanita itu menarik tangan gadis itu lalu ketiganya berlari menuruni lereng sementara lahar api meluluhlantakkan segala benda di belakang mereka. Ketika lahar itu semakin mendekat, sang wanita meneriakkan sesuatu lalu berbalik menghadang.

Arlayn menutup mata dengan kedua tangan, ngeri membayangkan wanita yang mirip ibunya meleleh dilahap lahar. Tapi saat membuka mata beberapa detik kemudian, dilihatnya wanita itu masih berdiri tegak, kedua tangannya menyemburkan butiran-butiran salju yang perlahan-lahan membekukan lahar.

Aneh. Bagaimana mungkin manusia bisa melakukan hal semacam itu?

Tapi rasa lega membuat Arlayn bersorak. Wanita itu selamat dan aliran lahar terhenti. Bencana telah berakhir.

Sayangnya, kesenangan itu lenyap saat butiran-butiran salju mulai meleleh. Sebanyak apapun salju yang dikeluarkan wanita itu tak sanggup menahan longsoran lahar yang terlalu panas. Saat butiran salju terakhirnya ditembus, lahar itu mengalir deras dan akhirnya melumat tubuh sang wanita.

Arlayn menjerit. Gadis kecil kembarannya juga menjerit. Wanita itu mati di depan mata mereka. Wanita dengan wajah seperti ibunya.

Tapi rentetan tragedi itu belum berakhir. Tubuh ibunya tiba-tiba limbung. Wanita itu terkulai di lantai, tak sadarkan diri. Berkali-kali Arlayn dan ayahnya memanggil, tapi tak ada jawaban. Wajah ibunya memucat. Arlayn tak lagi bisa merasakan kehangatan saat menggenggam tangan ibunya.

Dokter dan para perawat segera mengambil alih. Mereka memeriksa denyut nadi ibunya, menggotongnya ke tandu dan tergesa-gesa menuju ruang operasi. Arlayn hendak menyusul mereka tapi pemandangan di cermin membuatnya terpaku.

Sambil mengusap matanya yang sembab, gadis kecil saudara kembarnya berlari bersama pria yang mirip seperti ayahnya. Di belakang mereka, lahar panas mengalir dengan cepat, menumbangkan dan melumatkan pepohonan tanpa melambat sedikitpun. Semakin lama jarak antara mereka dan lahar itu semakin sempit. Saat lahar itu hampir menyentuh mereka, pria kembaran ayahnya berhenti. Kedua telapak tangannya menyemburkan butiran-butiran salju, menciptakan dinding es yang melebar ke samping dan ke atas. Meski keringat bercucuran, ia tak berhenti menyemburkan salju demi mempertebal dinding es.

Arlayn terpukau. Selama ini ia sering menonton film tentang orang-orang berkekuatan super yang mampu terbang, mengangkat benda-benda berat, berteleportasi, membaca pikiran, atau kemampuan aneh lainnya. Tapi menyemburkan salju? Membekukan lahar? Menciptakan dinding es? Kekuatan orang-orang di dalam cermin ini sungguh ajaib. Apa mungkin saat ini ia sedang bermimpi, atau berhalusinasi?

Lamunannya terhenti saat sebuah retakan muncul pada permukaan dinding es. Awalnya kecil, namun lama-lama retakan itu menjalar dan semakin besar. Dinding es itu mulai goyah, bergetar, meleleh, dan akhirnya hancur bersamaan dengan menyemburnya aliran lahar. Shock dengan kegagalannya, pria kembaran ayahnya terlambat menyelamatkan diri.

Bagai mendapat firasat buruk, Arlayn berlari menerjang kerumunan. Sosok ayahnya terlihat di ujung lain koridor, di depan ruang operasi tempat para perawat membawa ibunya.

“Ayah!”

Ayahnya berpaling sambil memaksakan diri tersenyum, merentangkan kedua tangan menyambutnya. Arlayn terus berlari seraya memanggilnya, berusaha mengabaikan kejadian buruk yang saja disaksikannya.

Tiba-tiba wajah ayahnya memucat. Pria itu tampak menahan sakit sambil memegangi dada kirinya. Arlayn mempercepat langkah. Namun bagaikan melihat rekaman ulang peristiwa ibunya, tubuh ayahnya perlahan-lahan roboh, membuat Arlayn panik dan mulai menjerit-jerit memanggil pertolongan. Para perawat memeriksa kondisi ayahnya dan bergegas menggotongnya ke ruang operasi. Saat Arlayn hendak menyusul masuk, mereka menahannya dan menyuruhnya menunggu di luar.

Pikiran Arlayn kalut. Dalam waktu yang berdekatan, kedua orang tuanya yang semula sehat mendadak jatuh pingsan, bersamaan dengan kematian kembaran orang tuanya di dalam cermin. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa hubungan antara dirinya dan orang tuanya dengan orang-orang di dalam cermin? Mengapa ia dan orang-orang lainnya tiba-tiba bisa melihat pemandangan aneh di cermin? Apa yang akan terjadi pada orang tuanya? Juga pada dirinya sendiri?

Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benaknya. Saat sedang berjalan berputar-putar di depan ruang operasi, matanya menangkap bayangan dirinya. Terpantul di cermin bulat yang tergantung di sudut lekukan dinding sebelah atas.

Seperti yang ditakutkannya, pantulan cermin itu berubah. Tak lagi menampilkan dirinya yang terpaku, melainkan saudara kembarnya yang masih berlari menghindari kejaran lahar. Napasnya terengah-engah dan keringat membanjiri tubuhnya.

Kengerian itu, juga rentetan peristiwa buruk yang dialaminya membuat Arlayn merasa mual. Kepalanya pusing. Matanya berkunang-kunang. Dan tekanan itu memuncak saat dilihatnya saudara kembarnya terjatuh sementara lahar hanya berjarak sekitar lima langkah di belakangnya.

Tanpa sadar Arlayn berlari, tak menyadari bahwa di depannya ada tangga menuju lantai bawah. Ia terpeleset dan jatuh berguling-guling di sepanjang anak tangga.

Lalu segalanya menjadi gelap.

* * * *